Assalamualaikum WR. WB
SHALAT DHUHA
A.
Pengertian shalat dhuha
Shalat
dhuha yaitu shalat yang dilaksanakan waktu pagi atau waktu dhuha yakni ketika
matahari sedang naik setinggi tombak atau naik sepenggalah, yang antara
kira-kira jam tujuh, delapan,sembilan, sampai masuk waktu shalat dzuhur.
Di
dalam surat Ad-Dhuha sendiri Allah telah menerangkan dalam permulaan ayat
dengan ungkapan, “demi waktu matahari sepenggalahan naik”, maka saat itu telah
dipilih untuk melakukan suatu kebijakan bagi umat manusia yang tentunya beriman
kepada-Nya dengan menjalankan shalat dhuha.
Lalu
dalam ayat kedelapan masih dalam surat Ad-Dhuha ditegaskan juga, “dan dia
mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan.”
Mengisaratkan kalau Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada
makhluk-Nya. Dia mencukupi mereka dengan segala macam bentuk nikmat yan tidak
bisa dihitung-hitung berapa jumlahnya.
B.
Hukum shalat dhuha
Shalat dhuha
termasuk salah satu shalat yang muakkadah (dianjurkan dengan sangat untuk
melakukannya) disamping shalat sunnah yang lain seperti tahajjud, tarawih,
shalat i’daini dan shalat witir, serta shalat sunnat rawatib muakkadah. Oleh
karena itu barang siapa yang menginginkan pahalanya maka hendaklah
mengamalkannya, dan jika tidak maka tida halangan pula meninggalkannnya.
Disebutkan
dalam suatu hadits dari Abu Said ra. Yang buni artinya:
“Rasulullah
SAW senantiasa shalat dhuha sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak
pernah meninggalkannya, tetapi kalau sudah meninggalkan sampai-sampai kita
mengira bahwa beliau tidak pernah mengerjakannya.” (HR. Tirmidzi)
C.
Bilangan raka’at shalat dhuha
Mengenai
bilangan raka’at shalat dhuha paling sedikit kita dapat melaksanakannya dua
raka’at dan paling banyak dua belas raka’at dengan setiap dua raka’at satu
salam. Hal ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW :
a.
Hadits yang menerangkan bilangan dua raka’at
adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim yang bunyi artinya :
“Nabi SAW tercinta memesankan kepadaku tiga hal, yaitu berpuasa tiga hari
dalam setiap bulan, mengerjakan dua raka’at dhuha dan berwitir dulu sebelum
tidur (HR. Bukhori dan Muslim)
b.
Hadits yang menatakan empat raka’at yang bunyi
artinya :
“Dari Aisyah ra, berkata: Rasulullah SAW biasa melaksanakan shalat dhuha
empat raka’at dan kadang-kadang melebihi dari sekehendaknya Allah (HR. Ahmad
Muslim dan Ibn Majah)
c.
Hadits yang menerangkan dua belas raka’at yang
bunyi artinya :
“Barang siapa yang mengerjakan shalat dhuha (sebanyak) dua belas raka’at,
maka Allah akan membangun gedung baginya di surga.”
Dua belas raka’at merupakan
jumlah maksimal raka’at dalam shalat dhuha, ini menunjukan kalau semakin banyak
seseorang hamba berbuat kebajikan atau beribadah kepada Allah SWT, niscaya
Allah akan terus melipatgandakan balasan baginya.
Dalam hadits ini sendiri
dijelaskan kalau Allah akan menyediakan gedung yang sangat megah bagi hambanya
dengan pengabdian mereka kepada-Nya. Memperbanyak sujud dihadapan Allah akan
semakin mendekatkan diri mereka kepada-Nya.
Wassalamualaikum WR. WB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar