Senin, 18 Januari 2016

Shalat Dhuha



 Assalamualaikum WR. WB

       
SHALAT DHUHA

             A.      Pengertian shalat dhuha

                Shalat dhuha yaitu shalat yang dilaksanakan waktu pagi atau waktu dhuha yakni ketika matahari sedang naik setinggi tombak atau naik sepenggalah, yang antara kira-kira jam tujuh, delapan,sembilan, sampai masuk waktu shalat dzuhur.
                Di dalam surat Ad-Dhuha sendiri Allah telah menerangkan dalam permulaan ayat dengan ungkapan, “demi waktu matahari sepenggalahan naik”, maka saat itu telah dipilih untuk melakukan suatu kebijakan bagi umat manusia yang tentunya beriman kepada-Nya dengan menjalankan shalat dhuha.
                 Lalu dalam ayat kedelapan masih dalam surat Ad-Dhuha ditegaskan juga, “dan dia            mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan.” Mengisaratkan  kalau Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada makhluk-Nya. Dia mencukupi  mereka dengan segala macam bentuk nikmat yan tidak bisa dihitung-hitung berapa jumlahnya.

           B.      Hukum shalat dhuha

Shalat dhuha termasuk salah satu shalat yang muakkadah (dianjurkan dengan sangat untuk melakukannya) disamping shalat sunnah yang lain seperti tahajjud, tarawih, shalat i’daini dan shalat witir, serta shalat sunnat rawatib muakkadah. Oleh karena itu barang siapa yang menginginkan pahalanya maka hendaklah mengamalkannya, dan jika tidak maka tida halangan pula meninggalkannnya.
Disebutkan dalam suatu hadits dari Abu Said ra. Yang buni artinya:
“Rasulullah SAW senantiasa shalat dhuha sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya, tetapi kalau sudah meninggalkan sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah mengerjakannya.” (HR. Tirmidzi)

           C.      Bilangan raka’at shalat dhuha

Mengenai bilangan raka’at shalat dhuha paling sedikit kita dapat melaksanakannya dua raka’at dan paling banyak dua belas raka’at dengan setiap dua raka’at satu salam. Hal ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW :

a.       Hadits yang menerangkan bilangan dua raka’at adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim yang bunyi artinya :

“Nabi SAW tercinta memesankan kepadaku tiga hal, yaitu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mengerjakan dua raka’at dhuha dan berwitir dulu sebelum tidur (HR. Bukhori dan Muslim)

b.      Hadits yang menatakan empat raka’at yang bunyi artinya :

“Dari Aisyah ra, berkata: Rasulullah SAW biasa melaksanakan shalat dhuha empat raka’at dan kadang-kadang melebihi dari sekehendaknya Allah (HR. Ahmad Muslim dan Ibn Majah)

c.       Hadits yang menerangkan dua belas raka’at yang bunyi artinya :

“Barang siapa yang mengerjakan shalat dhuha (sebanyak) dua belas raka’at, maka Allah akan membangun gedung baginya di surga.”


        Dua belas raka’at merupakan jumlah maksimal raka’at dalam shalat dhuha, ini menunjukan kalau semakin banyak seseorang hamba berbuat kebajikan atau beribadah kepada Allah SWT, niscaya Allah akan terus melipatgandakan balasan baginya.
        Dalam hadits ini sendiri dijelaskan kalau Allah akan menyediakan gedung yang sangat megah bagi hambanya dengan pengabdian mereka kepada-Nya. Memperbanyak sujud dihadapan Allah akan semakin mendekatkan diri mereka kepada-Nya.


   
Wassalamualaikum WR. WB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar